Kamis, 25 September 2014

Manusia Setengah Malaikat

Diposting oleh Anti Regina Pung Pung di 10.45.00 0 komentar
Sepenuhnya aku menyadari… Karena tak mungkin lahir kembali menjadi manusia setengah malaikat…

Adakah yang mampu memahami? Seseorang yang membuat kendali pada hati. Seseorang yang pura-pura diam seolah tak peduli dengan hati. Seseorang yang memaksa hati untuk memakai topeng. Menyingkirkan luka. Melapisi hati dengan bahagia. Terbungkus rapi, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Ketika lahir kembali, bumi sudah tidak mengorbit pada matahari. Cahaya hanya datang dari hati. Tak pernah sia-sia ketika menyingkirkan luka dengan bahagia, ketika membungkus air mata dengan tawa. Tak pernah ada lagi senyum kepalsuan. Tak pernah ada lagi tawa dalam kemunafikan. Terang datang. Cahayanya dari hati yang telah lupa bagaiamana rasanya luka.

Bohong!! Siapa bilang hati melupakan luka?
Hati sedang membohongi hati. Siapa yang harus dipercaya? Bahkan hati pun berdiri di atas kebohongan..

Aaaahhh… tinggalkan saja luka. Bukankah bahagia selalu bersama?

Aku membutuhkanmu… Bantu aku untuk memahami isi hati. Benarkah luka itu bisa dibungkus dengan bahagia? Jika iya, bagaimana itu bisa terjadi? Benarkah malaikat itu tak pernah membuat kekeliruan? Bagaimana dengan manusia setengah malaikat? Adakah keberadaannya?

Kamis, 18 September 2014

Cahaya... Suara...

Diposting oleh Anti Regina Pung Pung di 19.10.00 0 komentar
Aku percaya dunia akan gelap jika tanpa cahaya. Aku  percaya terang itu ada karena cahaya. Aku percaya karena aku melihat.
Aku percaya sepi akan ada jika tanpa suara. Aku percaya nada itu ada karena suara. Aku percaya karena aku mendengar.
Aku percaya ruang akan hampa jika tanpa udara.

Aku percaya kesedihan akan ada jika tanpa bahagia. Aku percaya bahagia itu ada karena tak ada kesedihan. Aku percaya karena aku merasa.

Tapi hidup sering kali memaksaku untuk selalu percaya pada sesuatu yang tidak aku lihat atau tidak aku dengar. Bagaimana jika begitu? Haruskah aku menuruti paksaan hidup? Apakah hidup sedang memaksa? Atau justeru karena aku yang merasa terpaksa?

Ketika yang disebut gelap itu adalah dunia tanpa cahaya, bagaimana dengan gelap yang ada pada ruang di dalam jiwa? Cahaya apa yang dibutuhkan untuk menjadi penerang?
Ketika yang disebut sepi itu adalah ruang tanpa suara, bagaimana dengan sepi yang ada pada hati? Bukankah hati selalu memberi kata? Bagaimana hal itu bisa disebut dengan sepi? Apa yang dibutuhkan hati ketika hati merasa sepi?
Ketika hampa itu adalah ruang tanpa udara, bagaimana dengan hampa yang dirasakan ketika sendiri? Hampa itu berarti tidak ada apa-apa. Kenapa ada rasa yang dirasa dari hampa?

Aku terdiam di ruang gelap tanpa suara yang dirasa hampa.
Kini aku percaya, sepi adalah teman paling setia ketika aku sendiri.

Aku masih terdiam… melihat dalam gelap. Membaca sandi yang ditulis oleh hati.
Satu yang aku ketahui, di depanku terdapat dinding. Aku harus ingat. Di depanku ada dinding. Dinding yang tak bisa aku lihat dalam gelap. Dinding pemisah antara dunia nyata dan dunia yang tak nyata.

Aku sendiri… Mengabaikan suara… Mengabaikan cahaya…
Teriakan-teriakan itu… Terserah… Aku tidak dengar…
Kata-kata itu… Aku tak peduli…
Urus saja diri sendiri…

Kemudian…
Aku berdiri… menatap cahaya. Membaca kata tanpa makna. Mendengar suara..
Diaaaaaaamm…… Suara itu.. Kata-kata itu… Aaaarrrggghhhhh…..!!!


Jumat, 12 September 2014

KAU

Diposting oleh Anti Regina Pung Pung di 17.27.00 0 komentar
Kau…
Kau cahaya di tengah gelap
Kau putih di tengah hitam
Kau hujan di tengah gersang
Kau music di tengah sepi
Kau sepi di tengah petir badai menderu

Kau…
Kau beri aku mata untuk melihat
Kau beri aku tawa untuk bahagia
Kau beri aku hati untuk mencinta
Kau beri aku nyawa untuk hidup

Kau…
Kau matahariku
Kau pelangiku
Kau bintang hatiku

Bersamamu aku tak pernah merasa sepi
Bersamamu aku tak pernah merasa sendiri
Bersamamu aku merasa lebih berarti


Jumat, 05 September 2014

LDR

Diposting oleh Anti Regina Pung Pung di 15.36.00 0 komentar
LDR…
LDR adalah kesabaran. Sabar menanti pertemuan.
LDR adalah kesetiaan. Setia pada waktu untuk segera mempertemukan. Setia pada ruang yang memberi jarak. Setia pada hati.
Seni dari LDR adalah membuat setiap detik saat bertemu menjadi detik-detik yang sangat berharga.
Yang paling penting dari LDR adalah kepercayaan. Selalu percaya, meskipun tak selalu bertatap muka.

Angin yang berhembus adalah nyanyian rindu. Hembusannya membisikkan kata rindu. Rindu adalah kenikmatan batin. Seni dari mencintai adalah bisa merasakan kerinduan. Rindu adalah nafas dari LDR.
 

Catatan Bintang Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review