Ada kalanya dunia menempatkan ku
pada titik terbawah dalam hidup, ketika perjuangan untuk menggapai cita dan asa
tergoyahkan oleh suatu yang menjadi racun kehidupan. Tuhan sayang padaku, karena
itulah Dia memberikanku racun melalui mereka yang kurang menghargai perassan
seseorang, agar aku lebih sering mengingat-Nya.
Sesungguhnya aku tak pernah tahu
dengan apa yang ada dalam pikiran mereka tentang aku. Racun yang masuk melalui
hatiku telah menyebar ke seluruh tubuhku hingga aku tak mampu lagi untuk membedakan
kebenaran dan kesalahan. Aku lupa bagaimana cara untuk hidup normal, tapi aku
selalu ingat bagaimana rasanya sakit.
Tulisan ini adalah gambaran dari
sebagian kecil luka yang ku alami. Mereka tertawa ketika aku benar-benar merasa
sakit. Mereka hanya akan sedikit melirik ke arahku dan akhirnya kembali tertawa
menyaksikan kesakitanku. Dimana letak hati?
Sakit. Ternyata mereka yang telah
ku anggap saudara, secepat itu berubah menjadi peluru yang dengan sangat cepat
menembus ke dalam tubuhku, tepat di hati. Dan membuatku tak berdaya untuk
melakukan apa-apa.
Tak ada lagi bintang. Tak ada
lagi matahari. Bahkan bumi tempatku berpijak pun seolah ingin pergi menjauh
dariku. Sungai yang mengalir di bawah kedua mataku, berubah menjadi badai di
tengah samudera. Ah… siapa yang peduli? Aku tak ingin mereka peduli dengan
keadaanku. Aku hanya ingin mereka mengerti.
Lautan dalam jiwa yang di penuhi
dengan kepedihan, tak akan secepat kilat hilang begitu saja si telan waktu.
Sakit ini abadi. Dan andai aku bisa merubah makna dari kata sakit abadi itu,
aku akan merubahnya menjadi : sakit yang abadi itu adalah sakit yang dirasakan sementara.
Cita-citaku adalah membuat orang
yang menyayangiku bangga padaku. Dan membuat orang yang membenciku kagum
padaku. Aku adalah bintang. Tapi perlu beberapa waktu untuk membuatku
bercahaya.
Akan ku jadikan sakit ini sebagai
permulaan untuk melangkah maju ke depan. Tak mengingat lagi sakit yang
kurasakan. Sakit ini adalah pendorong roda kehidupanku. Setiap kedipan mataku adalah harga yang perlu
dibayar dengan belajar untuk meraih sukses di hari esok.
Aku yakin mereka yang hanya
mendapat pujian tanpa ujian tak pernah berpikir untuk menghargai waktu. Tak
pernah berusaha untuk hidup lebih maju.
Berjuta terima kasih ku sampaikan
pada mereka yang telah memberikan aku sakit. Karena berkat mereka, aku berubah
menjadi seseorang yang lebih berarti.
***