Minggu, 27 Juli 2014

mmmm -_-

Diposting oleh Anti Regina Pung Pung di 13.05.00 0 komentar
----------o0o(=_=)o0o----------

“Selamat pagi sayang, semoga hari ini menyenangkan :)” Hapus~
Ganti~
“Haloo…”

“Aku lagi gak baik, aku kangen kamu, rasanya perasaan itu..mmmm.. gimana ya :D” Hapus~
Ganti~
“Aku gapapa :)”

“Selamat siang. Aku rindu kamu mmm.. Kapan ya kita bisa ketemu? :D” Hapus~
Ganti~
“Hai.. disini ada yang merindukanmu :D”

“Sayang udah sahur? Jangan lupa makan ya :)” Hapus~
Ganti~
“Kamu udah sahur?”

“Lagi apa sayang?” Hapus~
Ganti~
“Kamu lagi apa?”

“Sayang..” Hapus~
Ganti~
“Haloo..”

“Iya, hati2 ya sayang :)” Hapus~
Ganti~
“Iya..”

“Padahal aku harap kamu belum ngantuk.” Hapus~
Ganti~
“Tidurlah~ :)”

Dan masih banyak lagi.. hahaha

Kebiasaan…

Tak Mengerti

Diposting oleh Anti Regina Pung Pung di 09.22.00 0 komentar
Hari ini aku memandang bayanganku lebih lama dari biasanya. Kemudian aku mengembang. Kemudian aku mencair. Huih… ternyata ini aku!! Ya… meskipun aku sudah menyadari ini dari sebelumnya, tapi aku pura-pura melupakan. Kemudian bayangan dalam cermin itu kembali menyadarkan. Aku bukan apa-apa. Aku bukan siapa-siapa. Hanya makhluk kecil yang nampak pada bayangan.

Aku bicara pada hujan, “Hujan, tolong beri aku alasan mengapa kau mencair?”. Tapi dia hanya diam. Aku bicara pada angin, “Angin, tolong beri aku alasan mengapa kau berhembus?”. Angin pun hanya diam. Akhirnya aku bertanya pada bayangan, “Kenapa aku mencair??”. Oh… aku bocor!! “Kenapa aku menghembuskan angin??”. Oh… aku hidup.

Pada bayangan yang selalu setia menjadi teman terbaikku, aku terus bertanya ada apa dengan aku. Kenapa aku. Tapi bayangan pun tak pernah menjawab. Mungkin karena dia memang tidak tahu jawabannya. Atau karena tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh diri.

Aku merasa diri yang terlihat pada bayangan ini tak berarti. Merasa ada rasa yang tak mampu diungkap dengan kata. Merasa kalau rasa ini adalah dosa. Ada rasa takut. Takut mengganggu diam mu. Takut mengganggu damai mu. Masih berada dalam lingkaran tanya. Pantaskah aku untukmu? Sedangkan aku... mencintaimu. Sedangkan aku… menyayangimu.

Jika rasa yang ditawarkan oleh cinta mampu membuat bayangan menjadi nyata, akan aku ungkap semua kata yang selama ini menjadi racun dalam dada. Dalam diam aku berkata. Dalam lelap aku terjaga. Aku bicara dalam kebisuan. Aku bertanya meski tak pernah ada yang tahu dengan jawabannya.

Semua yang aku ungkap seperti lembaran cerita. Ketika kamu tanya aku kenapa. Aku jawab, aku tak tahu. Karena memang itulah yang aku tahu. Aku tak tahu. Harusnya kamu yang tahu. Harusnya kamu yang mengerti aku. Tapi aku coba pikir lagi. Jangankan kamu. Aku pun tak tahu.

Baru kali ini aku tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh hati. Harusnya hatiku tahu. Ini menyiksaku! Rasanya sakit. Tapi aku tak tahu apa yang membuat aku sakit. Rasanya perih. Tapi aku tak tahu apa yang membuatku perih. Luka. Padahal aku sedang bahagia.


Sudahlah. Mungkin yang harus aku lakukan sekarang adalah mengabaikan kata hati. Mencoba tak peduli dengan suara hati. Menjadi tuli.

Sabtu, 26 Juli 2014

Dia Bernama Rindu

Diposting oleh Anti Regina Pung Pung di 14.11.00 0 komentar
Terbang. Menari di atas awan. Melayang diantara bintang-bintang. Bernyanyi ditemani warna pelangi. Membantu matahari menyinari bumi. Mendarat di bulan. Awal yang bahagia. Scenario yang di tawarkan oleh cinta.

Tak ingin. Mencair bersama hujan. Jatuh bersama komet. Menghilang bersama badai. Terobang-ambing di tengah samudera. Lenyap dimakan Bermuda. Dilupakan. Ditinggalkan. Mati.

Aku ada. Di tengah milyaran umat manusia. Diantara nyawa yang diberi nafas bahagia. Bersama raga yang menanggung beban derita. Hidup bercampur dengan bintang yang bersinar terang, aku meredup. Bukan pemilik cahaya. Mati. Terabaikan. Terasingkan.

Oh… aku bermimpi menjadi cahaya. Bersinar. Menjadi idola. Terang. Orang-orang meneriakkan namaku. Matilah Kau!! Ash… Aku menjadi abu. Menghalangi pandangan. Abu yang menempel pada Kristal hati. Angan-angan. Bayangan.

Plak… Tamparan pada dinding pikir itu menyadarkan lamunan. Ada perasaan yang nyatanya bukan sebuah kebiasaan. Ada rasa yang tak biasa. Ada luka di atas hati yang bahagia. Ada air mata ketika tertawa. Bukan, bukan luka. Bukan, bukan air mata. Adalah hati yang tak tahu maksud dari diri. Hanya ruang yang tak terjamah oleh cinta. Dimensi yang tak dipahami oleh rasa. Biasa.

Aku tak mengerti. Apa rasa yang di maksud hati saat ini? Bukan perasaan luka. Tapi tak mengenal kata bahagia. Hati. Bagaimana kabar hati? Merasa baik meski tercabik. Bukan. Merasa tercabik meski sedang baik. Bukankah itu artinya sama saja? Tidak. Aku baik-baik saja. Hanya diri yang tak mengerti maksud hati.

Merasa. Bukan sosok yang sempurna untuk merasakan cinta. Tapi. Bukankah cinta tak butuh kesempurnaan? Hanya butuh perasaan. Damai ketika cinta memeluk hati. Indah ketika cinta menyelimuti diri. Tapi apa yang dirasa hati saat ini? Diri. Terlalu tidak tahu untuk mengerti.

Ternyata ada. Dimensi yang sama meski dirasa beda. Langkah yang panjang. Ruang yang jauh. Bernama jarak. Aku mendengar suara. Aku melihat bayangan. Aku menyentuh perasaan. Aku menghirup aroma rindu. Dapatkah kamu dengar ketika aku memanggil namamu? Dapatkah kamu rasakan ketika aku merindukanmu? Adalah aku yang selalu mengingatmu.

Ternyata rindu. Rindu yang menyiksaku. Yang merubah rasa menjadi asa. Yang merubah bayangan menjadi angan. Yang merubah bahagia menjadi luka. Ah… rindu. Harusnya tak seperti ini.


Dari sebab, selalu ada akibat. Karena aku mencintai. Maka aku. Menanggung resiko. Yang bernama r i n d u …

Kamis, 24 Juli 2014

Bukan Cerita

Diposting oleh Anti Regina Pung Pung di 12.29.00 0 komentar
Ketika semua dirasa seperti mimpi.
Langit berseru kepada alam untuk selalu setia berada di bawahnya. Entah. Dimana titik ujung yang dinamakan langit? Akan aku temukan. Aku akan terbang. Menembus langit biru, melewati atmosfer, menduduki tanah tanpa gravitasi. Terbang. Melayang. Mendarat diantara bintang-bintang.

Langit. Lautan biru di atas matahari. Tempat tertinggi dari kerajaan awan. Menggapai langit adalah meraih cita. Menatap langit adalah mengagumi sang pencipta. Langit. Pelindung bumi dan semesta. Pemberian dari sang pemilik langit. Warnanya adalah kedamaian.

Bumi. Bola kecil di angkasa. Diciptakan untuk pijakan umat manusia. Ada gravitasi. Tempat segala macam bentuk kehidupan. Manusia tak bisa terbang, hanya bisa berlari. Mengejar impian untuk pergi ke atas langit. Adalah bulat. Tapi selalu dirasa datar. Entahlah.

Udara. Ruang untuk tetap hidup. Di atas bumi. Di bawah langit. Tanpa udara adalah hampa. Warnanya adalah rahasia.

Mimpi. Dimana letak alam yang disebut mimpi? Mungkin diantara langit dan bumi. Bukan. Di dalam ruang yang tak bisa dilihat dengan mata dan pikiran sadar. Mimpi. Akarnya adalah cinta. Batang dan daunnya adalah kasih dan sayang. Bunganya adalah kebahagiaan. Racunnya adalah air mata.

Bersama. Keadaan sebelum perpisahan. Harumnya adalah cinta. Busuknya adalah dusta. Kebersamaan. Alam yang diharapkan untuk sebuah keabadian tanpa perpisahan. Mimpi bagi setiap jiwa yang ingin merasakan kebahagiaan. Bersama cinta. Hati yang tak ingin dipisahkan dari raga pemilik cinta. Kebersamaan adalah keindahan bagi setiap raga yang memiliki nyawa.

Air mata. Sungai kecil yang mengalir dari sudut yang disebut mata. Pembasuh luka. Buah dari duka. Mahkota mata. Pemberi warna. Pelangi cinta. Selama masih ada cinta hadirnya adalah sementara.

Cinta. Mahkota hati. Warnanya adalah keindahan. Hadiah dari semesta untuk para pengharap kesempurnaan.

Aku hidup di bawah langit, di atas bumi, di antara mimpi. Di dalam dunia. Bersama cinta.

Warna~
Hidup~
Cinta~
Bersama~

Bahagia~

Minggu, 20 Juli 2014

Daun dan Embun

Diposting oleh Anti Regina Pung Pung di 04.16.00 0 komentar
Daun itu merasakan kebahagiaan ketika setetes embun membasahinya, karena yang diberikan embun adalah air yang berisikan cinta dengan sebuah ketulusan dan tak pernah ada keterpaksaan. Meski hanya setetes dan hanya dari sang embun. Sang embun pun merasa bahagia karena merasa airnya diterima dengan senyuman dari sang daun. Hingga akhirnya setiap pagi sang embun tak pernah lupa untuk selalu memberikan cintanya pada sang daun lewat air yang dia titipkan pada alam.

Tapi aku tak pernah berharap menjadi embun, karena kurasa jika aku menjadi embun aku mungkin akan menghilang ketika hujan dan lupa untuk memberikan setetes dari airku. Ketika aku berubah menjadi hujan, mungkin aku akan melukainya karena kerasnya hantaman dari air yang aku berikan. Aku pun tak pernah berharap menjadi daun yang hanya menunggu cinta dan merasa bahagia ketika cinta datang, namun hanya membiarkan cinta bahagia karena melihatku bahagia.

Tahukah kamu? Ketika matahari keluar dari persembunyiannya, embun akan hilang. Airnya akan daun berikan pada matahari. Ternyata sang embun tak pernah setia menamani sang daun. Dan sang daun tak pernah menahan sang embun untuk tetap tinggal bersamanya. Dan aku tak ingin menjadi salah satu diantara keduanya.


Matahari… merasa dosakah kamu karena selalu mengambil pemberian embun dari sang daun?

Jumat, 11 Juli 2014

Hai Aku...

Diposting oleh Anti Regina Pung Pung di 12.48.00 0 komentar
Ada awan di kepalaku. Lihat awan itu, bergerak menuju hati! Tidaaak… Jangaaan…
Ada kesedihan? Tidak, sama sekali. Hanya merasa…mmmm…entahlah. Masih perlukah kesedihan, ketika setiap hari yang dirasa adalah bahagia? Aku.. sedang bahagia. Tapi aku merasa ada yang berbeda di dalam nafas bahagiaku. Ada awan di kepalaku. Matahari… kemarilah, singkirkan awan itu. Aku tak ingin bila awan itu mencair dan terlihat seperti hujan.

Ada awan di bawah cerahnya langit. Matahari! Wihh… ada bulan di siang hari! Hai bulan, bintang mana? Eh matahari… lagi apa di atas sana? Ayo.. pergi… aku ingin segera melihat bulan dan bintang.

Memutar waktu. Ingin pergi ke alam dimana waktu sama dengan bahagia. Eh… ini alamnya ternyata. Selamat datang di dunia dimana semua orang mengingat tanggal untuk mengingat waktu. Aku? Untuk apa tanggal ketika semua waktu dalam hari dirasa sama?

Ada kabut di bawah gelapnya malam. Hei kabut, menyingkirlah. Mana bulan dan bintang? Disana ternyata. Eh… disini. Hei langit, pernah melihat bulan dan bintang pergi bersama gak? Tahu gak? Itu aku lho~ sama dia. Lihat kan waktu itu?

Hai bumi… Masih selalu ada untuk menampung makhluk kecil bernama Anti ternyata. Terima kasih bumi. Apa kabar satelitmu? Aku merindukannya bumi.

Hai kamu… Ada sesuatu di jantungku. Ada sesuau di kepalaku. Itu kamu? Iya itu kamu. Kamu mengganggu pikiran sadarku. Tapi… tapi… tapi aku bahagia. Teruslah ganggu aku, aku tak keberatan. Sama sekali.

Eh… lihat cahaya itu! Mengintip di balik hati. Sekarang terlihat jelas. Woah… cahaya cinta!!! Bagaimana? Bagaimana bisa? Hih… Kemarilah.. Jangan takut. Aku ingin memelukmu. Eh ternyata cahaya gak bisa dipeluk.

Hah mimpi. Eh, Hai mimpi. Bisa bawa aku ke tempatnya gak? Untuk kali ini saja. Aku hanya ingin tahu, sedang apa dia. Hai (lagi) mimpi… Bisa bawa aku masuk ke hatinya gak? Aku hanya ingin tahu. Apakah rasanya sama dengan rasaku? Apakah rindunya sama dengan rinduku?

Oh… aku tahu sekarang.

Hai kamu… Ada aku…ini aku. Aku menyayangimu. Selamat datang di hariku. Eh, hatiku.

Selasa, 08 Juli 2014

Seperti Bukan Aku

Diposting oleh Anti Regina Pung Pung di 19.37.00 0 komentar
Ada yang salah dengan diriku! Aku hanya diam dan aku merasa lelah?
Ayo, Anti!! Ada banyak yang harus dilakukan, lebih dari sekedar bermalas-malasan.

Ada yang salah dengan hariku! Aku merasa gelap saat matahari ada di atas kepalaku. Aku silau saat malam mengubah dunia menjadi gelap. Aku ngantuk saat siang dan terjaga ketika malam. Oh tidaaaaak! Aku akan jadi seekor kelelawar!!

Benar-benar ada yang salah dengan aku! Apa? Apa yang salah? Aku merasa ini bukan aku! Aku yang dulu selalu punya banyak waktu untuk merajut helaian mimpi, sekarang hilang! Tidak! Jangan!

Bagaimana mungkin ini terjadi?
Oh… aku tahu!!! Sekarang hari sudah menciut. Satu hari hanya ada 24 jam!
Woah… 24 jam MEEEEN! Dan aku masih kekurangan waktu untuk bersantai. #pemalas

Mulai sekarang.. aku akan kembali, menjadi aku yang dulu. Yang kenyataannya bukan makhluk yang malas. Atau sebaliknya >.<
Dan aku, aku terdampar disini, karena ada satu misi. 

Nyanyi dulu ah…
Jreng… Jreng….

Ukirkan dalam hati kapten masa depan
Lebih tangguh dari pada yang kita duga
Daripada terbawa hati yang gelisah
Cobalah tuk manangis saja

Demi meraih masa depan terlihat
Tak perlu ragu jadilah diri yang baru
Bukan demi tuk siapapun juga
Cukup mencoba untuk jadi lebih hebat

Dragon Screamers Why I do Why I do!
Bagai naga yang terbang Why I do Why I do Ho!

Cahaya keemasan panggilan masa depan
Dan akan bimbing kita semua
Dragon Screamers !
Dragon Fever !
No Question!


Selamat Malam… Malam ini makhluk malas lagi merindukan bulan.

Selasa, 01 Juli 2014

Thanks God

Diposting oleh Anti Regina Pung Pung di 10.38.00 0 komentar
Yeaaahh.. Bulan Juli. Itu artinya aku telah melewati setengah perjalanan di tahun 2014. Aku berhasil melewati bulan Juni dengan..…. S E M P U R N A… Thanks God :’)

Rangkaian mimpi yang aku ukir selama bulan Juni telah berhasil membuat hariku bahagia. Yaaa tentunya dengan bantuan cinta. Dan di bulan Juli ini aku ingin kebahagiaan itu berlanjut. Cinta itu tetap ada. Serta impianku menjadi nyata.

Ada harapan yang ingin aku sempurnakan. Jika bulan Juni kemarin aku hanya berharap menjadi bulan yang baik untuk bulan-bulan yang akan datang nanti. Maka di bulan Juli ini aku berharap harapanku selama aku hidup dalam harapan dapat dikabulkan, dan bukan hanya sekedar harapan-harapan yang tak pernah sekalipun aku usahakan. Thanks God, telah memberikan aku kesempatan untuk membuat harapan sehingga hari-hari aku sibukkan untuk mencapai tujuan.

Wooaaaahh… Aroma bulan Juli tercium hingga ke dasar lautan harap.

Terima kasih telah memberikan aku nafas untuk merasakan cinta.
Terima kasih telah membuatku merasakan cinta yang sempurna.
Dan kamu adalah keajaiban cinta terbesar dalam hidupku.
Aku mencintaimu.


Selamat Bulan Juli 2014….
 

Catatan Bintang Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review