Ada
awan di kepalaku. Lihat awan itu, bergerak menuju hati! Tidaaak… Jangaaan…
Ada
kesedihan? Tidak, sama sekali. Hanya merasa…mmmm…entahlah. Masih perlukah
kesedihan, ketika setiap hari yang dirasa adalah bahagia? Aku.. sedang bahagia.
Tapi aku merasa ada yang berbeda di dalam nafas bahagiaku. Ada awan di
kepalaku. Matahari… kemarilah, singkirkan awan itu. Aku tak ingin bila awan itu
mencair dan terlihat seperti hujan.
Ada
awan di bawah cerahnya langit. Matahari! Wihh… ada bulan di siang hari! Hai
bulan, bintang mana? Eh matahari… lagi apa di atas sana? Ayo.. pergi… aku ingin
segera melihat bulan dan bintang.
Memutar
waktu. Ingin pergi ke alam dimana waktu sama dengan bahagia. Eh… ini alamnya
ternyata. Selamat datang di dunia dimana semua orang mengingat tanggal untuk mengingat
waktu. Aku? Untuk apa tanggal ketika semua waktu dalam hari dirasa sama?
Ada
kabut di bawah gelapnya malam. Hei kabut, menyingkirlah. Mana bulan dan
bintang? Disana ternyata. Eh… disini. Hei langit, pernah melihat bulan dan
bintang pergi bersama gak? Tahu gak? Itu aku lho~ sama dia. Lihat kan waktu
itu?
Hai
bumi… Masih selalu ada untuk menampung makhluk kecil bernama Anti ternyata.
Terima kasih bumi. Apa kabar satelitmu? Aku merindukannya bumi.
Hai
kamu… Ada sesuatu di jantungku. Ada sesuau di kepalaku. Itu kamu? Iya itu kamu.
Kamu mengganggu pikiran sadarku. Tapi… tapi… tapi aku bahagia. Teruslah ganggu
aku, aku tak keberatan. Sama sekali.
Eh…
lihat cahaya itu! Mengintip di balik hati. Sekarang terlihat jelas. Woah…
cahaya cinta!!! Bagaimana? Bagaimana bisa? Hih… Kemarilah.. Jangan takut. Aku
ingin memelukmu. Eh ternyata cahaya gak bisa dipeluk.
Hah
mimpi. Eh, Hai mimpi. Bisa bawa aku ke tempatnya gak? Untuk kali ini saja. Aku
hanya ingin tahu, sedang apa dia. Hai (lagi) mimpi… Bisa bawa aku masuk ke
hatinya gak? Aku hanya ingin tahu. Apakah rasanya sama dengan rasaku? Apakah
rindunya sama dengan rinduku?
Oh…
aku tahu sekarang.
Hai
kamu… Ada aku…ini aku. Aku menyayangimu. Selamat datang di hariku. Eh, hatiku.