Tentang hidup yang semua orang membicarakannya,
begitu juga aku, yang belum tahu banyak tentang kehidupan, yang belum mengerti
arti hidup.
Orang bilang dalam hidup ada jalan yang berliku, aku
juga merasakannya. Saat cacian, makian, dan hinaan datang pada kehidupanku, aku
hanya bisa berkata sabar pada diriku sendiri, tanpa tahu apa arti kata sabar
itu.
Sesuatu yang berhubungan dengan hidup pasti
berdampingan dengan cinta. Semua yang bernyawa pasti merasakan cinta, bisa jadi
yang tak bernyawa pun merasakan cinta, sungai contohnya, dia mencintai air yang
mengalir di atasnya.
Cinta yang aku rasa begitu sangat indah dan
terkadang menjadi sesuatu yang sangat buruk. Terlalu naif rasanya jika aku
menyerah mengahadapi persoalan yang terjadi dalam hidup dan kehidupanku.
Ketika mimpi hadir untuk menemani orang tidur, aku
justru mengharapkan mimpi itu datang ketika aku terbangun, karena hanya dengan
bermimpi aku dapat merasakan kebahagiaan dalam hidup. Dia yang selalu membuatku
merasa hidup, dia yang selalu membuatku berpikir tentang kehidupan, dia yang
selalu ada untuk menemani ku dalam hidup. Walau terkadang dia ingin menjauh
dari hidupku dan ingin mencari makna kehidupan tanpa hadirku dalam hidupnya.
***
Hari ini hujan deras disertai angin mengguyur di
sepanjang jalan. Aku berharap hujan akan reda ketika aku sampai di kota itu,
ketika aku turun dari bus ini. Berkali-kali aku lihat handphoneku walau tak ada
satu pun pesan yang aku dapati. Mungkin memang keberadaanku sudah tak ada yang
mau pedulikan lagi.
Tid.. Tid.. Suara handphone ku akhirnya berbunyi,
ternyata ada pesan dari Rama, pacarku. Ya, mungkin hanya dia yang selalu
pedulikan keadaanku.
“Sayang, kamu udah sampe?” isi pesan darinya. Entah
kenapa waktu itu aku sama sekali gak mau balas pesan darinya, padahal biasanya
aku selalu buru-buru balas pesannya walaupun isinya kadang gak penting.
Tapi pesannya aku balas karena aku gak mau
kehilangan perhatiannya yang selalu dia curahkan padaku.
“Blm sayang, tp bentar lagi aku sampe ..”
Hmmm, mungkin memang hanya dia yang aku punya
semenjak kepergian ayah dan ibuku akibat kecelakaan tiga tahun lalu. Pernah aku
berpikir, kenapa sih harus mereka yang pergi duluan dari dunia ini? Kenapa
bukan aku saja? Padahal kalau aku gak pergi pun mungkin gak bakalan ada yang butuhin aku.
Ah, dunia ini harus aku taklukan. Seperti kata
ayahku dulu sebelum akhirnya dia pergi. “Gina, kamu itu anak ayah paling hebat,
kamu harus bisa bertarung mengalahkan dunia yang terkadang kejam bagi kamu.”
Iya mungkin kata-kata dari ayah itulah yang selalu menjadi penyemangat hidupku.
Ayah, Ibu, andai kalian masih bersamaku mungkin aku gak akan menjadi selemah
ini.
***
Aku adalah anak semata wayang. Kakek dan nenek ku
pun sudah lama meninggal hingga akhirnya setelah kedua orang tuaku pun
meninggalkan aku, aku menjadi hidup sebatang kara.
Sekarang aku masih kuliah di salah satu perguruan tinggi
negeri di kota Bandung. Beruntunglah aku karena aku mendapat beasiswa untuk
belajar disana. Selain kuliah aku bekerja di restoran untuk membiayai hidupku
selama aku kuliah di Bandung.
***
Ckiiit…. Suara itu membuyarkan lamunanku, tanpa
kusadari ternyata bus sudah sampai. Tapi hujan deras itu masih belum reda.
Aku turun dari bus sambil berlari mencari tempat
untuk berteduh. Tanpa kusadari saat aku berlari untuk menyebrang jalan aku
terpeleset. Dari arah barat terlihat mobil yang melaju kencang. Saat aku
terjatuh mobil itu menyenggol kaki kananku. Tapi untunglah si pengendara mobil
mau bertanggung jawab walau sepenuhnya itu bukan kesalahan dia.
Aku tiba di Rumah Sakit. Lelah, sakit, sedih,
bingung, dan perasaan tak menentu saat aku tiba disana. Aku tak tahu apa yang
terjadi padaku, tapi tiba-tiba dokter berkata padaku,
“Saudara Gina, luka yang dialami kaki Mbak sangat
parah, kalau dibiarkan begitu tidak ada harapan untuk sembuh, kami harus
mengambil tindakan untuk segera mengamputasi kaki Mbak.”
Mendengar perkataan Dokter seperti itu aku merasa
dunia runtuh, tapi apa daya aku tak ingin mengalami rasa sakit yang
berkepanjangan. Aku mengiyakan saja kata dokter dan hari itu pula dokter
beserta timnya segera memotong kaki kananku sampai ke bagian lutut.
***
Rama, andai dia tahu keadaanku sekarang, mungkin dia
sudah enggan menerimaku lagi. Kuliahku, kerjaanku. Lantas darimana aku bisa
membiayai hidupku hari ini, esok, lusa, dan selamanya sampai aku meninggal
nanti.
Dengan hati yang pasrah, akhirnya aku menelpon Rama,
pacarku.
Tuut.. Tuut ..
“Iya sayang?” terdengar suara Rama dari sana yang
masih belum tahu keadaanku sekarang.
Aku hanya diam, bibirku enggan mengeluarkan kata.
“Sayang??” lanjut Rama karena sudah beberapa menit
aku hanya diam. “Sayang, kalau masih gak mau bicara aku tutup telponnya lho.”
Akhirnya dengan suara yang berat aku mampu
berkata-kata. “Aku tunggu kamu di kostku, sekarang.”
Aku langsung tutup teleponnya dan satu jam kemudian dia
datang.
Melihat keadaanku dia terlihat terkejut dan mungkin
dia berusaha menutupi perasaan kecewanya padaku.
“Maafkan aku, aku gak beritahu kamu tentang ini.”
Dia hanya diam.
“Aku tahu kamu malu.” Lanjutku. “Tapi kalau kamu gak
mau punya pacar cacat seperti aku, lebih baik kamu pergi saja tinggalkan aku
sekarang, karena aku gak mau kamu mencintaiku karena keterpaksaan, karena
merasa kasihan sama aku.” Kataku sambil tak kuasa menahan air mata.
Dia menghapus air mataku. “Sayang, aku gak akan malu
punya pacar kayak kamu, aku mencintaimu bukan karena fisikmu.”
“Bohong, itu bohong. Mana ada yang mau terima
pacarnya dengan keadaan seperti ini.” Kataku gak percaya.
“Percayalah sayang. Aku akan……….”
“Lebih baik kamu tinggalkan aku, karena aku tahu
betul bagaimana orang tuamu. Jangankan dengan keadaan yang seperti sekarang
ini, gak begini pun orang tuamu gak terima aku.” Aku memotong pembicaraannya.
“Kamu harus pergi sekarang sayang.”
Tanpa banyak kata, Rama pergi meninggalkan aku. “Aku
akan selalu ada untuk kamu.”
Kata itu adalah kata
terakhir yang keluar dari mulutnya.
***
Sesuatu yang kusebut
cinta ini menjadikan aku seperti manusia paling bodoh, karena betapa bodohnya
diriku yang menyuruh pacarku pergi yang jelas-jelas dia benar-benar mencintaiku.
Satu bulan berlalu,
tanpa ada kabar darinya. Aku gak tahu dia ada dimana, aku gak tahu dia masih
ingat aku atau enggak, yang jelas cintaku padanya masih sama seperti dulu.
Tid.. Tid.. Handphoneku
bunyi. Hmmm, ternyata pasan dari Rama.
“Sayang, klo boleh aq
akan ke kostanmu sekarang.”
“Aku tnggu.” Balasku.
Tak lama kemudian Rama
berada di dekatku. Aku menangis, menyesal karena waktu itu aku sempat
menyuruhnya pergi.
“Aku nyesel waktu itu
aku nyuruh kamu pergi, tapi aku belum yakin kamu bisa terima aku dalam keadaan
yang seperti ini.”
“Aku terima kamu
sayang, bagaimanapun keadaan kamu aku selalu sayang kamu, aku selalu cinta
kamu.” Jawabnya.
Aku menangis mendengar
jawabnya. Dia peluk erat tubuhku, dia cium bibirku. Kehangatannya,
kelembutannya, masih sama seperti dulu.
Rama, kini aku mengerti
ternyata memang hanya kamu yang selalu ada untukku, ternyata hanya kamu yang
mampu memahamiku, ternyata hanya kamu yang mengerti keadaanku.
***
Itulah hidup yang semua
orang membicarakannya. Sesuatu dalam hidup akan terasa indah saat ada seseorang
yang mampu mengerti. Sangat indah ketika air mata yang menjadi symbol dari luka
berubah menjadi senyum tanda bahagia.
Seperti yang orang
katakan, sesuatu akan terasa indah pada waktunya.