Senin, 25 November 2013

Lingkaran Obat Nyamuk 2

Diposting oleh Anti Regina Pung Pung di 07.47.00 0 komentar
Namaku Anti Regina Pung Pung. Mamaku pernah bilang, semua orang suka pelangi, kedatangannya disukai, mungkin diharapkan oleh setiap makhluk yang bernyawa, tak terkecuali bulan, bintang, matahari, bahkan air hujan. Namun sering kali datang terlambat, atau mungkin datang pada waktu yang tidak tepat. Tapi inilah kehidupan. Bukan kesempurnaan, bukan pula ketidaksempurnaan. Karena ku yakin tak akan ada kata sempurna dalam hidup.

Aku mengharapkan hidup dalam kedamaian. Dicintai dalam ketenangan. Disayangi dalam lautan jiwa penuh perasaan. Dikasihi dalam cerita kehidupan. Bukan hidup yang hiasi dengan noda kebencian. Bukan dendam yang tergambar dalam segala ucap dan laku. Bukan kemunafikan yang tertanam dalam jiwa. Bukan pula emosi yang tercermin dalam bayangan kehidupan.

Demi masa depan aku melangkah kembali. Merajut helaian asa yang sempat ku tinggalkan. Menyatukan kembali kepingan-kepingan harap yang sempat aku siakan. Membersihkan noda dalam diri yang sempat menjadi hitam dalam kehidupanku yang kelam. Ya… karena inilah aku dengan segala ketidakmampuanku melawan kerasnya gunung batu. Melawan derasnya ombak samudera. Melawan gersangnya hamparan padang pasir yang dinamakan kehidupan. Tapi aku mampu untuk bisa tegar, walau aku tegar hanya karena suatu alasan. Iya mungkin karena cinta yang tertanam dalam jiwa, cinta akan kehidupan yang takkan pernah berujung pada kekekalan.

Aku bukan berasal dari keluarga yang mau apa selalu ada. Tapi aku terlahir dari kelurga sederhana yang selalu ada untuk melakukan apa-apa. Maksudnya, dalam keluarga kami saling membantu dan bekerjasama untuk berbuat atau membuat apa-apa yang kami mau. Akulah sang pemuja kehidupan, pendamba kebahagiaan, dan pengharap kesempurnaan.

*

Malam ini langit tak berbintang. Mungkin bintangnya lagi bersembunyi dibalik kabut kegelisahan atau mungkin dibalik awan kebimbangan. Ah… entahlah aku tak tahu, karena yang ku tahu hanyalah aku menginginkan bintang datang menemani dinginnya hati tanpa selimut kasih sayang sang bintang. Bintang kamu dimana? Aku merindukanmu bintangku.

Ku tutup jendela kamarku. Aku kembali duduk di depan laptopku dengan desktop berlatarkan bintang, di atas tempat tidur bermotifkan bintang, di depan dinding bergambar bintang.  Karena bintanglah harapanku. Karena bintanglah idolaku. Karena bintanglah cahaya malamku. Karena bintanglah penyemangat hidupku. Akulah pemuja bintang dalam kehidupan yang damai, yang bahagia, yang membuatku merasa seperti orang yang sempurna.

Jenuh. Akhirnya ku matikan laptopku. Ku padamkan lampu kamarku. Ku tarik selimut bintangku. Dan… Ah... Ruang gelap. Mengharapkan cahaya bintang menerangi gelapnya kamarku. Aku berdoa. Berharap bintang hadir dalam mimpiku. Ya… walau hanya dalam mimpi. Selamat malam bintang hidupku.

***

Kriiiiingg… Kriiiiingg… Alarm ku berbunyi. Pukul 5 pagi. Tanda bahwa aku harus bangun. Dituntut untuk terjaga menikmati hidup seperti kemarin. Merajut rangkaian kisah seperti biasa. Melangkah. Maju ke depan. Meninggalkan kisah yang telah lalu. Sekali-kali, kulirik spion kehidupanku, untuk gambaran. Dan kini aku tinggal menggapai tujuan hidup yang luar biasa. Menatap ke satu arah.  Membuat hari penuh warna dan cerita bersama alunan melodi tentang kehidupan. Kehidupan yang menjadi dambaan. Melupakan bintang malam. Mengejar bintang kehidupan.

“Anti…...” Mama memanggilku.
“Iya Mam… Anti udah bangun kok. Bentar, Anti beres-beres dulu.” Sahutku.

Mama banyak mengajarkan aku tentang hidup. Tentang semuanya yang berhubungan dengan kehidupan. Kesabaran menghadapi hidup. Ketegaran melawan pahitnya hidup. Dan semuanya. Mamalah yang terbaik untukku. Bahkan Mama mengajarkan aku tentang mencintai bintang. Menyayangi bintang. Dan mengasishi bintang. Ah… Bintang.

*

Sabtu, 23 November 2013

Lingkaran Obat Nyamuk

Diposting oleh Anti Regina Pung Pung di 17.19.00 0 komentar
Kadang aku tak mengerti dengan apa yang aku lakukan. Mencoba berdiri untuk bisa duduk. Mencoba berjalan untuk merasakan diam. Mencoba naik untuk berusaha turun. Mencoba tidur untuk terjaga. Kedengarnnya memang tidak  masuk akal, tapi entah mengapa aku pun dibuat bingung dengan semua itu.

Akal sehatku seolah tak berfungsi ketika ku ingat masa setelah semua ini benar-benar terjadi. Kadang seseorang berbuat seolah mereka tak punya perasaan, bukan tak punya hati. Tapi hidup ini memang benar-benar  mengajarkan aku banyak hal.

Air mata memang bukan hanya cerminan aku terluka. Tawa juga bukan hanya cerminan kalau aku sedang bahagia. Karena terkadang aku menangis dalam bahagiaku. Terkadang aku tersenyum dalam sedihku. Terkadang aku tertawa dalam kecewaku. Terkadang aku menari di atas lukaku. Terkadang pula aku menjerit dalam diamku.

Orang bilang hidup ini seperti roda yang berputar. Tapi aku berpendapat beda, aku pikir hidup ini seperti lingkaran obat nyamuk ‘spiral’ yang menuju titik ujung yang disebut dengan kematian. Perputarannya tak selalu melewati titik yang sama dari waktu ke waktu.

Perjalanan yang dinamakan kehidupan ini mempertemukan aku dengan cinta, memperlihatkan aku tentang kesedihan dan kebahagiaan. Tawa dan air mata menurutku wajib ada dalam hidup. Karena tanpa keduanya hidup akan licin seperti lautan yang membeku, datar seperti hamparan padang pasir yang gersang. Tak ada lembah dan tak ada gunung. Membosankan. Tapi tidak dengan hidupku. Kerena hidupku penuh dengan warna, dihiasi dengan cerita, dilengkapi dengan cinta, dan disambut dengan canda, tawa, dan air mata.

Bukan hal yang sulit bagiku jika ditanyai tentang hidup ataupun kehidupan. Karena inilah hidupku. Hidup di dalam kemandirian, kehidupan di dalam hidup yang damai dan tak bertopeng. Apa adanya. Tanpa rekayasa, tanpa karangan cerita.

Seperti khayalanku dulu yang selalu membayangkan hidup sempurna dalam bahagia. Tidak munafik. Aku mendamba kehidupan yang seperti itu. Tapi ku yakin, bahkan seorang Raja di istana megah, dengan istri yang cantik, harta yang berlimpah, rakyat yang adil dan makmur, dihormati, dihargai, bahkan menjadi dambaan kehidupan setiap insan yang bernyawa pun tak selamanya hidup dalam kehidupan yang bahagia.

Jika lingkaran ‘obat nyamuk’ ku habis, dan saat itu aku di paksa untuk meninggalkan hidup dan kehidupanku, aku hanya ingin setiap kebaikanku dapat mereka ingat. Hmmm… Sesuatu telah memaksaku untuk menulis tentang ini. Ah… lupakan. Aku hanya ingin hidup dalam bahagia, tapi taka pa jika dibumbui sedikit dengan luka supaya hidupku tidak licin seperti danau yang membeku.

Pahitnya hidup. Manisnya cinta. Entahlah, aku bukan seorang penyair yang mampu merangkai kata indah menjadi bagian bait dan sekumpulan kata yang disebut dengan puisi. Aku pun bukan seorang perangkai kata yang dengan imajiinya mampu membuat cerita dan merangkainya menjadi bagian paragraph dan di satukan menjadi sebuah cerita panjang yang disebut dengan novel.  Tapi dalam hatiku, jauh dalam hatiku yang paling dalam sedalam lautan jiwa yang tak mampu ditebak oleh mereka. Aku bernyanyi, aku merangkai kata hanya tak bisa kuungkapkan dengan ucap dan laku.

Puisi dalam jiwaku indah, bermakna. Bahkan lebih indah dari puisinya Khalil Gibran. Khayal dalam pikirku menarik, baik. Bahkan lebih baik dari novelnya Asma Nadia, Andrea Hirata, atau Raditia Dika. Hanya saja aku hanya bisa mengkhayal dan tak mampu berkata-kata.

Ahhh…. Tapi beginilah jadinya kalau aku sering mengkhayal. Mengkhayal akan hidup yang selalu bahagia dan tanpa air mata. Penulis terkenal ku anggap taka da apa-apanya, padahal apa yang bisa aku lakukan. Apa yang aku bisa. Tak ada. Nol Besar. Omong kosong.
 

Catatan Bintang Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review