Namaku Anti Regina Pung Pung. Mamaku pernah bilang, semua orang suka pelangi, kedatangannya disukai, mungkin diharapkan oleh setiap
makhluk yang bernyawa, tak terkecuali bulan, bintang, matahari, bahkan air
hujan. Namun sering kali datang terlambat, atau mungkin datang pada waktu yang
tidak tepat. Tapi inilah kehidupan. Bukan kesempurnaan, bukan pula
ketidaksempurnaan. Karena ku yakin tak akan ada kata sempurna dalam hidup.
Aku mengharapkan
hidup dalam kedamaian. Dicintai dalam ketenangan. Disayangi dalam lautan jiwa penuh
perasaan. Dikasihi dalam cerita kehidupan. Bukan hidup yang hiasi dengan noda
kebencian. Bukan dendam yang tergambar dalam segala ucap dan laku. Bukan
kemunafikan yang tertanam dalam jiwa. Bukan pula emosi yang tercermin dalam
bayangan kehidupan.
Demi masa depan aku
melangkah kembali. Merajut helaian asa yang sempat ku tinggalkan. Menyatukan
kembali kepingan-kepingan harap yang sempat aku siakan. Membersihkan noda dalam
diri yang sempat menjadi hitam dalam kehidupanku yang kelam. Ya… karena inilah
aku dengan segala ketidakmampuanku melawan kerasnya gunung batu. Melawan
derasnya ombak samudera. Melawan gersangnya hamparan padang pasir yang
dinamakan kehidupan. Tapi aku mampu untuk bisa tegar, walau aku tegar hanya
karena suatu alasan. Iya mungkin karena cinta yang tertanam dalam jiwa, cinta
akan kehidupan yang takkan pernah berujung pada kekekalan.
Aku bukan berasal
dari keluarga yang mau apa selalu ada. Tapi aku terlahir dari kelurga sederhana
yang selalu ada untuk melakukan apa-apa. Maksudnya, dalam keluarga kami saling
membantu dan bekerjasama untuk berbuat atau membuat apa-apa yang kami mau.
Akulah sang pemuja kehidupan, pendamba kebahagiaan, dan pengharap kesempurnaan.
*
Malam ini langit
tak berbintang. Mungkin bintangnya lagi bersembunyi dibalik kabut kegelisahan
atau mungkin dibalik awan kebimbangan. Ah… entahlah aku tak tahu, karena yang
ku tahu hanyalah aku menginginkan bintang datang menemani dinginnya hati tanpa
selimut kasih sayang sang bintang. Bintang kamu dimana? Aku merindukanmu
bintangku.
Ku tutup jendela
kamarku. Aku kembali duduk di depan laptopku dengan desktop berlatarkan bintang,
di atas tempat tidur bermotifkan bintang, di depan dinding bergambar bintang. Karena bintanglah harapanku. Karena
bintanglah idolaku. Karena bintanglah cahaya malamku. Karena bintanglah
penyemangat hidupku. Akulah pemuja bintang dalam kehidupan yang damai, yang
bahagia, yang membuatku merasa seperti orang yang sempurna.
Jenuh. Akhirnya ku
matikan laptopku. Ku padamkan lampu kamarku. Ku tarik selimut bintangku. Dan…
Ah... Ruang gelap. Mengharapkan cahaya bintang menerangi gelapnya kamarku. Aku
berdoa. Berharap bintang hadir dalam mimpiku. Ya… walau hanya dalam mimpi.
Selamat malam bintang hidupku.
***
Kriiiiingg…
Kriiiiingg… Alarm ku berbunyi. Pukul 5 pagi. Tanda bahwa aku harus bangun.
Dituntut untuk terjaga menikmati hidup seperti kemarin. Merajut rangkaian kisah
seperti biasa. Melangkah. Maju ke depan. Meninggalkan kisah yang telah lalu.
Sekali-kali, kulirik spion kehidupanku, untuk gambaran. Dan kini aku tinggal menggapai
tujuan hidup yang luar biasa. Menatap ke satu arah. Membuat hari penuh warna dan cerita bersama
alunan melodi tentang kehidupan. Kehidupan yang menjadi dambaan. Melupakan
bintang malam. Mengejar bintang kehidupan.
“Anti…...” Mama
memanggilku.
“Iya Mam… Anti udah
bangun kok. Bentar, Anti beres-beres dulu.” Sahutku.
Mama banyak
mengajarkan aku tentang hidup. Tentang semuanya yang berhubungan dengan
kehidupan. Kesabaran menghadapi hidup. Ketegaran melawan pahitnya hidup. Dan
semuanya. Mamalah yang terbaik untukku. Bahkan Mama mengajarkan aku tentang
mencintai bintang. Menyayangi bintang. Dan mengasishi bintang. Ah… Bintang.
*